كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ Anti Wahabi Group Hadirkan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semogga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Senin, 16 April 2012

MENGENAL SEKTE-SEKTE DISEKELILING KITA



FirQotun Najiyah


╣MENGENAL SEKTE-SEKTE DISEKELILING KITA╠

①KHAWARIJ
Kata ini diberikan bagi kelompok penentang tahkim dan menyatakan diri keluar dari barisah Shahabat Ali kw. Mereka bertendensi dg QS.Al-nisa:100,
"Keluar dari rumah menuju Allah dan Rasul-Nya".

Sekte ini beranggapan bahwa dari keempat khulafa'ur rasyidin, hanya Abu bakar dan Umar saja yang kepemimpinya dianggap sah. Sedang Utsman dan Ali telah menyimpang dalam politiknya (seperti nepotisme Utsman dan penerimaan tahkim Ali) dan status kekhalifahan keduanya batal. Bahkan mereka berani menghukumi kufur, murtad dan pelaku dosa besar pada sebagian shahabat. Apakah anda punya tetangga seperti ini?

②SYIAH
Adalah sekte pendukung setia Ali bin abi thalib. Jika peristiwa Tahkim kelompok khawarij mundur dan keluar dari Ali, maka sekte Syiah ini justru bersikap sebaliknya, yaitu setia membela dan mempertahankan kedudukan Ali kw hingga titik darah penghabisan.

Watak politik Syiah berhaluan teokratis, kebalikan dari demokrasi yg dianut khawarij, lawan politik syiah. Sekte ini menganggap imam terakhir mereka -Abu alqasim- sebagai alMahdi yang ditunggu diakhir zaman (namun Mahdi versi syiah ini sampai sekarang belum keluar juga ya?).
Menurut sekte ini, seseorang tak dikatakan mukmin jika ia tak mau mematuhi khilafah atau imam. Bahkan kefanatikan pada Ali telah membuahkan dendam kesumat kepada Shahabat Nabi yang tak sepaham dengan Ali, hingga sampai sekarang.
Berhati-hatilah bila anda mempunyai tetangga tipe ini :)

③MURJIAH
Sekte ini tampil dengan mengusung ideologi bahwa Shahabat yg ikut terlibat pertikaian itu (peristiwa tahkim) semuanya benar. Nampaknya prinsip inilah sejarah menyebutnya Murjiah, yg artinya orang-orang yg menunda atau menangguhkan.

Lambat laun dengan iklim politik yg kurang kondusif serta gencarnya klaim-klaim takfir yg ditudingkan kelompok khawarij kepada Ali dan Muawiyah, atau Syiah kepada Abu bakar dan Umar, telah menggiring Murjiah masuk pada perdebatan teologis yg menegangkan. Yaitu,
-apa dan siapa orang mukmin dan kafir itu?
-apakah Khawarij atau Syiah?
Sekali lagi berhati-hatilah bila ada tetangga yg menghukumi kafir pada muslim lainya.

④MU'TAZILAH
Adalah sekte rasional atau mendewakan akal yg dipelopori Washil ibn atha' (80-131H/ 699-748M), murid al-hasan al-bashri. Ia juga salah seorang guru imam Hanafi.

Menurut Hasan al-basri, pelaku dosa besar tak dihukumi kafir tapi munafik. Sedang Washil, pelaku dosa besar adalah fasik dan berada diantara kafir dan mukmin. Artinya "dia tidak mukmin tidak pula kafir". Kontroversi antara guru dan murid inilah yang ditengarai munculnya sekte Mu'tazilah ini.

Dalam teologi,sekte ini berkeyakinan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan menciptakan perbuatan amal mereka, bukan Tuhan (sebagaimana kaum Jabariyah). Artinya sekte ini mampu memilih Surga atau Neraka menurut hawa nafsunya.
Berhati-hatilah bila bertetangga dg mereka, krn sekte ini sangat disukai oleh mahasiswa yg minim atau jahil agama.


⑤WAHABI-SALAFY
Wah kalau sekte puritan ini pastilah anda lebih mengetahui seluk beluknya. Krn ciri-ciri mereka yang sok nyunah, padahal jahil bin bahlul dalam agama. Diantara slogannya yang agak rasio mengeruk jama'ah adalah KEMBALI PADA AL-QURAN DAN AS-SUNAH, padahal ini adalah pembodohan umat.

Belum lagi ciri dg istilah memurnikan akidah, seputar Syirik, bidah, khurafat yang menjadi wiridan ustad-ustadnya, bahkan pengikutnya pun tak mau kalah dg ustad-ustadnya.
Kalau punya tetangga seperti ini, aku yaqin tak mempan diberi dalil. Solusinya kaploki wae!


⑥JUMHUR (MAYORITAS)
Masyhur disebut Ahlussunah wal jama'ah atau Asya'irah dan Maturidiyah. Kelompok mayoritas ini bersifat netral, Artinya tidak sama dg sekte-sekte diatas.

Golongan ini dalam menilai Shahabat, semua dipandang sama. Maksudnya semua Shahabat musti dihormati krn telah bergaul atau bersentuhan langsung dg Rasulullah, dan tidaklah pantas bagi generasi setelahnya untuk mencaci mereka.

Memang kadangkala membandingkan 1 dg lainnya atau mengunggulkannya. Sebagaimana mengunggulkan Abu bakar dg shahabat lainnya, atau Khulafa'ur rasyidin atas shahabat pada umumnya.

Artinya pengunggulan shahabat ini tidak sampai mengkultuskan sebagaimana sekte Syiah, atau memojokkan sebagaimana sekte khawarij.

Inilah yang dinamakan As-sawad al-a'dzam yang insylh selamat sebagaimana telah dianjurkan oleh Rasulullah pada umatnya.
Allah wa rasuluh a'lam.

Bid’ah bid’ah di Masjidil Haram? [tanda Tanya]



Masjidil Harom

By Kaheel Baba Naheel

Bid’ah bid’ah di Masjidil Haram? [tanda Tanya]


الســــــــــــــــــــــــلام عليكم ورحـــمة الله وبركاته


Bismillahirrahmanirrahim…

Dulu saya disini posting sebuah pembahasan yang menyangkut dengan Masjidil Haram Makkah Al Mukarromah yang telah menjadi barometer banyak orang.

YANG PERTAMA yaitu gaya shalat tarawih disana yang menggunakan komposisi 10 salaman, yakni 20 rakaat dengan formasi 2-2-2 dst…. Kemudian ditambah witir 3 rakaat dengan komposisi 2 salaman, formasi 2-1.
Ternyata gaya shalat tarawih diatas ada yang mengatakan kurang shohih dasar hadits nya, berikut pembahasannya:

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=250119701717111&set=o.107101919360938&

YANG KEDUA yaitu formasi barisan shalat yang dilakukan di Masjidil Haram itu melingkar, yakni melingkar mengitari Baitullah atau Ka’bah. Benarkah gaya formasi tersebut dilakukan oleh nabi dulu disaat Fathul Makkah atau Haji Wada’?, berikut pembahasannya:

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=293935100668904&set=o.107101919360938&type=3

YANG KETIGA yaitu adzan 2x di hari jum’at yang dilakukan di Masjidil Haram itu ternyata ada yang mengatakan terang terangan bahwa itu “BID’AH” dan juga ada yang mengatakan dengan halus, yakni sudah tidak relevan lagi untuk saat ini. Berikut pembahasannya:

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=303513896377691&set=o.107101919360938&type=1&ref=nf

YANG KE EMPAT yaitu gaya ucapan ucapan para imam shalat sebelum takbiratul ihram, benarkah mereka sesuai sunnah nabi? Atau ada modifikasi?
Berikut pembahasannya:

http://www.facebook.com/groups/1OMWDI/275414245863037/


Sekarang saya akan menambahi lagi, yaitu masalah adzan 2x yang dilakukan di Masjidil Haram ini yang dikumandangkan ditengah malam menjelang fajar subuh.
Sudah barang tentu hadis hadis kuat yang menceritakan nabi menyuruh sahabat untuk adzan 2x banyak sekali. Yakni adzan pertama itu untuk membangunkan orang orang atau tanda qiyamul lail atau waktu sahur bagi yang berpuasa dll, sedangkan adzan yang ke-2 ini adalah tanda masuk nya waktu shalat subuh.

Prakteknya di Masjidil Haram ini adalah;
Adzan pertama dikumandangkan 1 jam sebelum masuk waktu shalat subuh.
Adzan ke-2 dikumandangkan pas masuk waktu shalat subuh.

Dengan komposisi:

Lafadz

الصـــــــــــــــلاة خير من النــــــــــــــــــــــوم

Ini di letakkan di adzan ke-2.
Jadi adzan yang pertama tidak ada lafadz teresebut.

Nah pertanyaannya, bagaimana di daerah lain atau di Negara lain yang mempraktikkan adzan 2x ini?

Lalu yang benar bagaimana komposisi/redaksi adzannya?
Bagaimanakah pendapat ulama ulama terdahulu dan ulama masa kini?
Wabil khusus Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani selaku pakar hadis dan sekaligus Sang Pembaharu masa kini….?

Mari temen temen disini Aswaja maupun Wahabi kita sharing ilmu tanpa ada caci maki dan merendahkan satu sama lain.

Semoga bermanfaat
Salam Aswaja !!

©Scan Original & Official®
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Kaheel’s

Koleksi Foto Foto Hot Banget Dari Negara Taukhid By Mbah Kaheel Baba Naheel



GAMBAR INI JUDUL NYA

مدفع رمضان بمكة المكرمة

Meriam Ramadhan Makkah Al Mukarramah


Meriam ini hanya di operasikan di bulan ramadhan
Fungsi nya adalah sebagai tanda

- Masuk nya bulan Ramadhan
- Masuk nya waktu berbuka puasa
- Tanda waktu sahur
- Tibanya waktu imsaak
- Masuk nya tanggal 1 syawal

Sehingga meriam ini senantiasa menggelegar disetiap hari nya di bulan puasa

Meriam ini di taruh disebuah gunung yang posisi nya dekat sekali dengan Masjidil Haram, yaitu disebuah gunung yang akhir nya diberi nama

جبل أبو مدافع

Gunung Meriam


Setelah selesai, dikembalikan lagi di tempat semula di daerah AZIZIYAH hingga Ramadhan lagi tiba

Selengkapnya bisa anda buka disini

http://forum.arab-mms.com/t291461.html

-------------------------- -------

Jadi ingat dulu tahun 2007, ketika menunggu shalat tarawih malam 30 Ramadhan di masjidil haram. Orang orang bingung pada menunggu tapi shalat tarawih tidak di gelar gelar, tiba tiba tak lama kemudian kami semua mendengar dentuman suara meriam ini yang menandakan
bahwa besok adalah lebaran
hahaha

Namun tidak tahu jaman sekarang, apakah masih ada meriam ini? mengingat saya sudah lebih 2 tahun tidak berpuasa di tanah suci

Jadi kalau BEDUK di indonesia di hukumi tasyabuh dengan orang hindu-budha atau shaolin, maka meriam ini tasyabuh dengan siapa? saya kira tidak usah diperdebatkan karena ini masalah dunia :D

Hanya sarana akhi :D




Dulu saya memposting sebuah MERIAM yang oleh penduduk Makkah di gunakan untuk pemberitahuan waktu adzan maghrib dibulan Ramadhan yakni waktu berbuka dan waktu sahur - imsak
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=313076158754798&set=a.149182898477459.32894.100001572504293&type=1


__________

Nah adapun meriam dalam gambar yang ini adalah yang difungsikan sama, namun di KUDS palestina atau Masjidil Aqsho.
lebih lengkapnya anda baca disini:

http://dahmane16.ahlamontada.net/t7730-topic

Jadul banget ya :D

Kayaknya selebrasi penyambutan bulan ramadhan di palestina mirip kayak di indo :D




Jalan jalan di Madinah melihat sebuah atribut atau semacam bungkusan yang bernuansa ala bendera saudi arabia yang jatuh tergeletak di aspal disebelah kaki orang orang...

Saya sengaja perhatikan karena tidak segera di ambil oleh mereka.

Wajar kalau ada yang pernah usul agar model bendera saudi ini dirubah.




Ternyata di Kota Suci Makkah juga sudah lama ada KOMPETISI menghafal Al Qur'an beserta TAJWID dan TAFSIR nya.

Acara yang ke 33 ini diselenggarakan oleh "INTERNATIONAL MALIK ABDUL AZIZ" yang bekerja sama dengan Masjidil Haram.

Tampak dalam foto ini adalah DR. Syeikh Abdurrahman Assudais selaku imam besar Masjidil Haram.

Beliau di undang sebagai TAMU KEHORMATAN dalam acara tersebut yang nanti nya mengisi sambutan pembukaan sekaligus mendapat penghormatan untuk menyerahkan hadiah atau cindramata bagi sang juara.

Namun perlombaan ini rupanya tingkat remaja internasional.

Lebih lengkap nya anda baca disini:

http://www.alriyadh.com/2011/12/22/article694020.html

____________________

Al Qur'an kok di lombakan??
hehehe... khan ini syi'ar akhi :D :p

Sebenarnya hal ini pernah juga di helat di indonesia tingkat nasional yang mana juga di hadiri oleh DR. Syeikh Sudais ini, yaitu diluar jawa.
Namun sayang saya lupa tempat dan tanggalnya... insya allah sekitar 2 tahun yang lalu. soal nya yang meraih juara itu masih saudara saya asal kota Banyuwangi. dia masih muda usia belasan. dan salah satu hadiah nya yang disebutkan oleh Syeikh Sudais ini adalah:

- Haji Gratis sebagain tamu kerajaan.
- Kuliah gratis di Ummul Qura Makkah.



Saya tahu hukum anjing dalam perspektif islam 4 madzhab, namun melihat gambar ini, perasaan gimanaaaaa gituuuu :-#


 Gambar ini di ambil di Riyadh, 15/04/2010


Judul gambar ini ada dua, yaitu:

بنت سعودية برفقة كلبها الخاص لكي يحميها من عمليات التحرش من الشباب

Gadis Saudi sedang di temani anjing pribadi nya untuk supaya menjaganya dari perbuatan perbuatan anak anak muda.

بنت سعودية تدافع عن نفسها بكلب حراسة

Gadis Saudi melindungi dirinya dengan anjing penjaga




Saya sering ditanyai tentang BENJOLAN ANEH ini yang terdapat di kubah hijau makam baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

Saya hanya menjawab:”Itu adalah candela atau semacam fentilasi atau slot atau Alrosenh yang akan di buka ketika membersihkan atap kubah.
Juga ada yang bilang itu dulu terbuka, namun karena jika hujan air dipastikan masuk yang nanti tentunya bisa merusak bagian dalam makam, maka akhir nya di tutup.

Berikut denah kubah makam rasul ini:

http://img411.imageshack.us/img411/2193/21155.jpg

http://img84.imageshack.us/img84/8995/500wx.jpg

dalam denah ini, benjolan aneh tersebut ditulis sbg:

كوة (شباك

Selanjutnya kita bicarakan di kolom komentar aja ya..



Saya mengikuti perkembangan Masjidil Haram semenjak kecil, yaitu tahun 1994.
Mulai dari penambahan tinggi ka'bah, penutupan lantai bawah tanah sumur zamzam, pelebaran masjid, pelebaran tempat sa'i dan kendaraan sarana untuk tawaf dan sa'i.
Dulu tawaf itu menggunakan jasa TANDU, yaitu di usung oleh 4 orang, kemudian lebih maju lagi menjadi kursi roda yang cukup di dorong oleh satu orang saja. Bisa menggunakan jasa orang lain, atau keluarga kita sendiri. Pihak Masjidil Haram sendiri secara resmi juga mengeluarkan biro jasa ini, sekali sewa untuk paket tawaf-sa'i sekian ratus riyal.
Nah sekarang pengembangan tehnologi menciptakan sarana baru lagi,seperti yang ada dalam gambar ini, yaitu semacam skuter mini metic. Cukup di pencet dengan jari tangan dan berjalanlah metic ini. Meski kecepatannya tidak bisa ditambah. Kecepatannya seperti orang berjalan.
Enak, tidak capek dan bisa sambil telpon telponan.

Inilah masalah duniawi yang barangkali yang dinamakan maslahah mursalah.




Brani brani nya anak ini mengenakan kaos sepak bola yang bertuliskan pemain kafir si messi di Masjidil Haram???

Astaghfirullah...



Saya tertarik dengan poster besar raja Abdullah dengan gaya melambaikan tangannya menyapa rakyatnya dan lukisan mata satu, akhirnya saya putuskan untuk berpose sejenak :D

Ini adalah pagar tembok Madrasah Hamzah bin abdil muthallib tingkat ibtida'iyah...
Gedung madrasah ini bersebelahan dengan makam syuhada' uhud.



Nih dua mobil polisi keamanan yang sedang parkir di pelataran Masjid Nabawi...
Maaf berpose lagi gan...
Ane suka logo polisi nya...
Kayak mata satu gitu :D




Sedang bermain dipagi hari di taman Saqifah bani Sa'idah..

Di tempat inilah sayyidina Abu Bakar di angkat, di lantik dan di bai'at menjadi Kholifah secara aklamasi.



Berpose di mobil pemadam kebakaran saudi arabia NEGARA TAUHID...

TERTARIK DENGAN LOGO SEGI TIGA nya !!



Barusan sepulang dari money changer dekat masjid jin makkah saya melihat dua polisi ini ngobrol enak seakan tak mempedulikan lalu lintas.
Posisi kedua polisi ini tepatnya dibawah jembatan menuju hujun, yaitu jembatan dekat kantor pos itu.

Sayang sekali saya nyurinya ini sambil jalan cz takut diketahui...
Tema foto ini adalah:

Polisi yang berdiri ini sedang merokok !!

Karena saya bukan perokok, maka saya tertarik dengan fakta ini...



Jalan dipagi hari mengolah raga di Tanah Suci Makkah, singgah sejenak berpose disebuah nama jalan di dekat PEKUBURAN SUCI MA'LAA....

ayo yang alergi SAYYIDINA....



Mobil ini milik petugas di masjidil haram...
Ini saya jumpai di parkiran para pekerja dimasjidil haram...
Karena saya melihat ada lambang aneh dipintu nya, maka saya abadikan dan saya posting disini...
Lambang apakah itu?



Salah satu pemandangan toko DI SAUDI ARABIA yang menjual ALAT IBADAH orang BUDHA





Usai shalat duha di Masjid Nabawi melihat anak anak kecil sedang belajar kitab suci Al Qur'an dengan methode yang tidak aku ketahui..
Menariknya sudah bukan pake papan lagi, melainkan pake projektor...

Masya Allah...
Semakin maju saja Nabawi :) 

Demikian baba naheel melaporkan

Sabtu, 14 April 2012

KAJIAN Makam Rasulullah sholollahu alaihi wa sallam




By Kaheel Baba Naheel

EPISODE XIV

KAJIAN: Makam Rasulullah sholollahu ‘alaihi wa sallam


Bismillahirrahmannirrahim.

Postingan saya kali ini sangat berat bagi saya.
Bagi anda yang ingin jelas dan puas maka anda membutuhkan sarana computer duduk atau laptop, karena jika menggunakan handphone atau perangkat sejenisnya maka bisa dipastikan anda tidak akan bisa melihatnya dengan jelas.

YANG PERTAMA:
Coba perhatikan dalam foto ini jeruji kuningan yang bertuliskan dengan jelas:

يا اللـــــــــــه
يا مجـــــــيد

Yang artinya:

“Wahai Allah”
“Wahai Dzat yang Maha Mulia”

Ini adalah foto hasil jepretan saya kemarin lalu. Dulu yang tidak bisa saya ketahui kapan itu, tulisan ini berbunyi begini:

يا اللـــــــــــه
يا محــــــــمد

Yang artinya:

“Wahai Allah”
“Wahai Muhammad”

Ini aku sertakan gambar lama, perhatikan dengan jeli dan seksama:

http://www.sunna.info/souwar/data/media/1/muwajaha_2.jpg

http://arabic.bayynat.org.lb/maalem/markadrasool.gif

http://www.3orod.com.sa/up//uploads/images/3orodd782548966.jpg

http://i28.servimg.com/u/f28/11/60/39/32/112.jpg

http://www.kw.ae/uploads/images/kw-f2aade75a8.jpg

bahkan kalender saya yang beli disana, tetap masih memakai foto yang lama di atas ini.

Dan perlu diketahui bahwa, di balik pagar jeruji kuning inilah 3 jasad mulia di kebumikan.

Jadi perubahan terjadi pada lafad

محــــــــمد

Menjadi

مجـــــــيد

Teknis nya, huruf “ha’”diganti dengan huruf “jim” dan kemudian huruf “mim” diganti dengan huruf “ya’”.
Luar biasa, sangat soft sekali.

Alasannya kenapa oleh pihak terkait diganti atau dirubah seperti itu?

Saya hanya bisa berAsumi..
Saya hanya bisa berSpekulasi…

Bahwa, nabi Muhammad sudah meninggal, sehingga tidak perlu lagi di panggil panggil atau dalam grammar Arabic istilahnya tidak perlu di bubuhi huruf atau kalimat “nidaa’ “ (panggilan atau memanggil).

Apakah ini yang dimaksud dengan salah satu satu dari distorsi??

Kemudian YANG KEDUA:
Coba perhatikan dengan jeli (zoom) tulisan kuning berbackground hijau di tiang putih sebelah kiri jeruji ini…
Apa yang anda lihat?
Apa yang and baca?

Yaitu kaligrafi yang mudah kita kenali dan kita baca, yakni sebuah tulisan yang berbunyi:

يا خير من دفنت بالقاع أعظمه

Nah !! anda tau syair ini?
Anda pernah mendengar atau membaca bait syair ini?

Ini adalah penggalan dari sebuah syair fenomenal, yaitu:


يا خير من دفنت بالقاع أعظمه

يا خير من دفنت في الترب أعظمـه *** فطاب من طيبهـن القـاع والأكـم

نفسي الفـداء لقبـر أنـت ساكنـه *** فيه العفاف وفيـه الجـود والكـرم

أنت الحبيب الذي ترجـى شفاعتـه *** عند الصراط إذا مـا زلـت القـدم

لولاك ما خلقـت شمـس ولا قمـر *** ولا سمـاء ولا لــوح ولا قـلـم

فكن شفيعا متى ما ثرت من جدثـي ** فإنني ضيفكـم والضيـف محتـرم

صلى عليك إله العرش مـا طلعـت *** شمس وحن إليـك الضـال والسلـم

وصاحبـاك فـلا ننساهمـا أبــدا *** منا السلام عليهم مـا جـرى القلـم

يا سيدي يا رسـول الله خـذ بيـدي *** فقد تحملــت عبئـا فيـه لـم أقـم

أستغفر الله مما قـد جنيـت علـى *** نفسي ويا خجلي منـه ويـا ندمـي

إن لم تكن لي شفيعا في المعاد فمـن * يجير لـي مـن عـذاب الله والنقـم

مـولاي دعـوة محتـاج لنصرتكـم *** يشكـو إليكـم أذى الأيــام والأزم

إنـي أعـوذ بكـم دنيـا وآخــرة *** مما يسوء وما يفضـي إلـى التهـم

تبلي عظامي وفيهـا مـن مودتكـم ** هوى مقيم وشـوق غيـر منصـرم

مـا مـر ذكركـم إلا وألزمـنـي *** نثر الدموع ونظم المـدح فـي كلـم

عليكـم صلـوات الله مـا سكـرت *** أرواح أهل التقى في راح ذكرهم


Lalu siapakah yang melantunkan syair ini?
Siapakah yang mengungkapkan syair rindu ini?
Siapakah yang mengarang kidung cinta ini?
Pastinya salah satu diantara kalian tahu cerita dibalik syair mistikus ini…

Lalu dimanakah terusannya penggalan syair di tiang makam nabi ini?
Jika anda termasuk orang yang suka

TREASURE…
ADVANTURE…
INVESTIGATION…
ARKEOLOG….

Anda pasti akan menemukan terusan dari bait bait syair ini di tiang tiang sekitar makam nabi.

Namun katanya cerita syair tawasul ini adalah dhoif?
Syubhat?

Tapi kok ditulis ditiang tiang makam nabi?

Saya hanya bisa berAsumi..
Saya hanya bisa berSpekulasi…

Bahwa, mungkin itu peninggalan dinasti utsmani dulu…
Tapi kok nggak di hapus aja ya? Atau dirubah seperti kaligrafi jeruji itu?

Ah… fokus !! aku harus tetep fokus menghadap baginda nabi….!!
Assalamu’alaika ya Rasulallah…
Assalamu’alaika ya Aba Bakr…
Assalamu’alaika Umar bin Khattab…


Semoga bermanfaat
Salam Aswaja !!

©Scan Original & Official®
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Kaheel’s

Kamis, 12 April 2012

BANDINGKAN KITAB TAFSIR ASLI DAN YANG TELAH DIPALSU SALAFI WAHABI


tafsir "Ash-Shawi 'ala Tafsir Al-Jalalain" yang masih sudah dipalsukan dan dihapus oleh Wahabi Salafi cetakan "Darul Fikr" tahun 1993 jilid 3 halaman 397

Tertulis

و قيل : هذه الأية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة , و يستحلون بذلك دماء المسلمين و أموالهم , لما هو مشاهد الأن فى نظائرهم.............. يحسبون أنهم على شيئ

"Dikatakan bahwa ayat tersebut di atas diturunkan pada kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang suka mentahrif (merubah) Al-Qur'an dan Hadits Nabi. Dengan demikian, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Hal itu bisa dibuktikan, karena adanya suatu kesaksian pada bangsa mereka saat ini.
.................................................
Mereka mengira bahwa mereka berkuasa atas sesuatu."

(koleksi kitab ISJS)
wahabi salafi menghapus kalimat
و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية
Mereka adalah golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Saudi). Golongan tersebut dinamakan "Wahabiyyah"


tafsir "Ash-Shawi 'ala Tafsir Al-Jalalain" yang masih asli dan belum ditahrif oleh Wahabi Salafi cetakan pertama "Darul Fikr" th 1988 jilid 5 halaman 119

Tertulis

و قيل : هذه الأية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة , و يستحلون بذلك دماء المسلمين و أموالهم , لما هو مشاهد الأن فى نظائرهم و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون أنهم على شيئ

"Dikatakan bahwa ayat tersebut di atas diturunkan pada kaum Khawarij, yaitu golongan orang-orang yang suka mentahrif (merubah) Al-Qur'an dan Hadits Nabi. Dengan demikian, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Hal itu bisa dibuktikan, karena adanya suatu kesaksian pada bangsa mereka saat ini. Mereka adalah golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Saudi). Golongan tersebut dinamakan "Wahabiyyah". Mereka mengira bahwa mereka berkuasa atas sesuatu."
(koleksi kitab KH. Thobary Syadzily)

Sampul Ash-Shawi 'ala Tafsir Al-Jalalain" yang sudah dipalsukan oleh Wahabi Salafi cetakan "Darul Fikr" tahun 1993
(koleksi kitab ISJS)


Sampul Ash-Shawi 'ala Tafsir Al-Jalalain" yang masih asli dan belum ditahrif oleh Wahabi Salafi cetakan pertama "Darul Fikr" tahun 1988
(koleksi kitab KH. Thobary Syadzily)


CATATAN PENTING KH Thobary Syadzily:
=========================
Kitab tafsir "Ash-Shawi 'ala Tafsir Al-Jalalain" yang saat ini beredar di seluruh dunia, asbabun nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat-ayat suci Al-Qur'an) ayat tersebut di atas yang menerangkan tentang "Wahabiyah" dihapus dan dihilangkan oleh kelompok Wahabi. Karena, kalau tidak dihilangkan akan merugikan dan membahayakan bagi mereka, bahkan bisa menjadi ancaman bagi Saudi Arabia dalam rangka tetap menjaga dan memelihara eksistensi kerajaannya di dunia internasional.

SUMBER:
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.244671228962002.53145.100002573794791&type=3

Rabu, 11 April 2012

Bantahan Habib Rizieq Shihab Terhadap Ustadz Yazid Jawas Part 1

Bantahan Habib Rizieq Shihab Terhadap Ustadz Yazid Jawas


Berjenggot Tebal dan celana cingkrang telah ada sejak zaman Nabi



By Anas Malik
Berjenggot Tebal dan celana cingkrang telah ada sejak zaman Nabi

أَقْبَلَ رَجُلٌ، غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ، مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ، نَاتِئُ الْجَبِينِ، كَثُّ اللِّحْيَةِ، مَحْلُوقٌ، فَقَالَ، اتَّقِ اللَّهَ
يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ رسنول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : منْ يُطِعْ اللَّهَ إِذَا عَصَيْتُ؟، أَيَأْمَنُنِي اللَّهُ، عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، فَلَا تَأْمَنُونِي؟، فَسَأَلَهُ رَجُلٌ قَتْلَهُ، أَحْسِبُهُ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ، فَمَنَعَهُ، فَلَمَّا وَلَّى، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا، أَوْ فِي عَقِبِ هَذَا، قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ، مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ، لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ.

(صحيح البخاري)

Berkata Abu sa’id Al Khudriy ra saat Nabi saw sedang membagi bagi harta pada beberapa orang, maka datanglah seorang lelaki, matanya membelalak, kedua pelipisnya tebal cembung kedepan, dahinya besar, janggutnya sangat tebal, rambutnya gundul, sarungnya pendek, berkata: Bertakwalah pada Allah wahai Muhammad…!, Sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang taat pada Allah kalau aku bermaksiat??, apakah Allah mempercayaiku untuk mengamankan penduduk bumi dan kalian tidak mempercayaiku??” dan berkata Khalid bin Walid ra: Wahai Rasulullah, kutebas lehernya..!, Rasul SAW melarangnya, lalu beliau SAW melirik orang itu yang sudah membelakangi Nabi saw, dan Rasul saw bersabda: “Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya (tidak kehatinya), mereka semakin jauh dari agama seperti menjauhnya panah dari busurnya, mereka memerangi orang islam dan membiarkan penyembah berhala”, jika kutemui kaum itu akan kuperangi seperti diperanginya kaum ‘Aad”
(Shahih Bukhari).

Perhatikan kata : sarungnya pendek
Perhatikan kata :janggutnya sangat tebal

Kemudian perhatikat kata ini sekali lagi :
Rasul saw bersabda: “Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya (tidak kehatinya), mereka semakin jauh dari agama seperti menjauhnya panah dari busurnya, mereka memerangi orang islam dan membiarkan penyembah berhala”, jika kutemui kaum itu akan kuperangi seperti diperanginya kaum ‘Aad

Dan ternyata keturunan mereka juga ada di Indonesia, siapakah dia ?

BERIKUT INI ADALAH FATWA-FATWA DARI ULAMA 4 MADZHAB MENGENAI SELAMATAN KEMATIAN


Alie Imroen
BERIKUT INI ADALAH FATWA-FATWA DARI ULAMA 4
MADZHAB MENGENAI SELAMATAN KEMATIAN I. MADZHAB HANAFI HASYIYAH IBN ABIDIEN Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan
oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas
disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam
momen musibah, hukumnya buruk apabila hal
tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah
meriwayatkan hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: "Kami
(para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di
rumah keluarga mayit, serta penghidangan
makanan oleh mereka merupakan bagian dari
niyahah". Dan dalam kitab al-Bazaziyah dinyatakan
bahwa makanan yang dihidangkan pada hari pertama, ketiga, serta seminggu setelah kematian
makruh hukumnya. (Muhammad Amin, Hasyiyah
Radd al- Muhtar 'ala al-Dar al-Muhtar (Beirut: Dar al-
Fikr, 1386) juz II, hal 240) AL-THAHTHAWY Hidangan dari keluarga mayit hukumnya makruh,
dikatakan dalam kitab al- Bazaziyah bahwa
hidangan makanan yang disajikan PADA HARI
PERTAMA, KETIGA, SERTA SEMINGGU SETELAH
KEMATIAN MAKRUH HUKUMNYA. (Ahmad bin Ismain
al-Thahthawy, Hasyiyah 'ala Muraqy al-Falah (Mesir: Maktabah al-Baby al-Halaby, 1318), juz I hal 409). IBN ABDUL WAHID SIEWASY Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan
oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas
disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam
momen musibah. hukumnya bid'ah yang buruk
apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan
Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah,
beliau berkata: "Kami (para sahabat) menganggap
kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta
penghidangan makanan oleh mereka merupakan
bagian dari niyahah". (Ibn Abdul Wahid Siewasy,
Syarh Fath al-Qadir (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 142) II.MADZHAB MALIKI AL-DASUQY Adapun berkumpul di dalam rumah keluarga mayit
yang menghidangkan makanan hukumnya bid'ah
yang dimakruhkan. (Muhammad al-Dasuqy,
Hasyiyah al- Dasuqy 'ala al-Syarh al-Kabir (Beirut: Dar
al-Fikr) juz I, hal 419) ABU ABDULLAH AL-MAGHRIBY Adapun penghidangan makanan oleh keluarga
mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara
tersebut dimakruhkan oleh mayoritas ulama, bahkan
mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai
bagian dari bid'ah, karena tidak didapatkannya
keterangan naqly mengenai perbuatan tersebut, dan momen tersebut tidak pantas untuk dijadikan
walimah (pesta)... adapun apabila keluarga mayit
menyembelih binatang di rumahnya kemudian
dibagikan kepada orang- orang fakir sebagai
shadaqah untuk mayit diperbolehkan selama hal
tersebut tidak menjadikannya riya, ingin terkenal, bangga, serta dengan syarat tidak boleh
mengumpulkan masyarakat. (Abu Abdullah al-
Maghriby, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil
(Beirut: Dar al-Fikr, 1398) juz II, hal 228) III.MADZHAB SYAFI’I AL-SYARBINY Adapun penghidangan makanan oleh keluarga
mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara
tersebut, hukumnya bid'ah yang tidak disunnahkan.
(Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, Mughny al-
Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 386) Adapun
kebiasaan keluarga mayit menghidangkan makanan dan berkumpulnya masyarakat dalam acara
tersebut, hukumnya bid'ah yang tidak disunnahkan.
(Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, al-Iqna' li al-
Syarbiny (Beirut: Dar al-Fikr, 1415) juz I, hal 210) AL-QALYUBY Guru kita al-Ramly telah berkata: sesuai dengan apa
yang dinyatakan di dalam kitab al-Raudl (an-
Nawawy), sesuatu yang merupakan bagian dari
perbuatan bid'ah munkarah yang tidak disukai
mengerjakannya adalah yang biasa dilakukan oleh
masyarakat berupa menghidangkan makanan untuk mengumpulkan tetangga, baik sebelum
maupun sesudah hari kematian.(a l- Qalyuby,
Hasyiyah al-Qalyuby (Indonesia: Maktabah Dar
Ihya;') juz I, hal 353) AN-NAWAWY Adapun penghidangan makanan oleh keluarga
mayit berikut berkumpulnya masyarakat dalam
acara tersebut tidak ada dalil naqlinya, dan hal
tersebut merupakan perbuatan bid'ah yang tidak
disunnahkan. (an-Nawawy, al-Majmu' (Beirut: Dar al-
Fikr, 1417) juz V, hal 186) IBN HAJAR AL-HAETAMY Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari
pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit,
dengan tujuan untuk mengundang masyarakat,
hukumnya bid'ah munkarah yang dimakruhkan,
berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat
Jarir bin Abdullah. (Ibn Hajar al-Haetamy, Tuhfah al- Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 577) AL-SAYYID AL-BAKRY ABU BAKR AL-DIMYATI Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari
pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit,
dengan tujuan untuk mengundang masyarakat,
hukumnya bid'ah yang dimakruhkan, seperti hukum
mendatangi undangan tersebut, berdasarkan
keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati,
I'anah at-Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 146) AL-AQRIMANY Adapun makanan yang dihidangkan oleh keluarga
mayit pada hari ketiga, keempat, dan sebagainya,
berikut berkumpulnya masyarakat dengan tujuan
sebagai pendekatan diri serta persembahan kasih
sayang kepada mayit, hukumnya bid'ah yang buruk
dan merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah yang tidak pernah muncul pada abad pertama Islam,
serta bukan merupakan bagian dari pekerjaan yang
mendapat pujian oleh para ulama. justeru para ulama
berkata: tidak pantas bagi orang muslim mengikuti
perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh
orang kafir. seharusnya setiap orang melarang keluarganya menghadiri acara-acara tersebut. ((al-
Aqrimany hal 314 dalam al-Mawa'idz; Pangrodjong
Nahdlatoel 'Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18,
hal.285) RAUDLAH AL-THALIBIEN Adapun penghidangan makanan oleh keluarga
mayit dan pengumpulan masyarakat terhadap acara
tersebut, tidak ada dalil naqlinya, bahkan perbuatan
tersebut hukumnya bid'ah yang tidak disunnahkan.
(Raudlah al-Thalibien (Beirut: al- Maktab al-Islamy,
1405) juz II, hal 145) IV. MADZHAB HAMBALI IBN QUDAMAH AL-MAQDISY Adapun penghidangan makanan untuk orang-
orang yang dilakukan oleh keluarga mayit,
hukumnya makruh. karena dengan demikian berarti
telah menambahkan musibah kepada keluarga
mayit, serta menambah beban, sekaligus berarti telah
menyerupai apa yang biasa dilakukan oleh orang- orang jahiliyah. dan diriwayatkan bahwa Jarir
mengunjungi Umar, kemudian Umar berkata:
"Apakah kalian suka berkumpul bersama keluarga
mayat yang kemudian menghidangkan makanan?"
Jawab Jarir: "Ya". Berkata Umar: "Hal tersebut
termasuk meratapi mayat". Namun apabila hal tersebut dibutuhkan, maka diperbolehkan, seperti
karena diantara pelayat terdapat orang-orang yang
jauh tempatnya kemudian ikut menginap, sementara
tidak memungkinkan mendapat makanan kecuali
dari hidangan yang diberikan dari keluarga mayit.
(Ibn Qudamah al-Maqdisy, al-Mughny (Beirut: Dar al- Fikr, 1405) juz II, hal 214) ABU ABDULLAH IBN MUFLAH AL-MAQDISY Sesungguhnya disunahkan mengirimkan makanan
apabila tujuannya untuk (menyantuni) keluarga
mayit, tetapi apabila makanan tersebut ditujukan
bagi orang-orang yang sedang berkumpul di sana,
maka hukumnya makruh, karena berarti telah
membantu terhadap perbuatan makruh; demikian pula makruh hukumnya apabila makanan tersebut
dihidangkan oleh keluarga mayit) kecuali apabila
ada hajat, tambah sang guru [Ibn Qudamah] dan
ulama lainnya).(A bu Abdullah ibn Muflah al-Maqdisy,
al-Furu' wa Tashhih al-Furu' (Beirut: Dar al-Kutab,
1418) juz II, hal 230-231) ABU ISHAQ BIN MAFLAH AL-HANBALY Menghidangkan makanan setelah proses
penguburan merupakan bagian dari niyahah,
menurut sebagian pendapat haram, kecuali apabila
ada hajat, (tambahan dari al-Mughny). Sanad hadits
tentang masalah tersebut tsiqat (terpercaya). (Abu
Ishaq bin Maflah al-Hanbaly, al-Mabda' fi Syarh al- Miqna' (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1400) juz II, hal
283) MANSHUR BIN IDRIS AL-BAHUTY Dan dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk
menghidangkan makanan kepada para tamu,
berdasarkan keterangan riwayat Imam Ahmad dari
Shahabat Jarir. (Manshur bin Idris al-Bahuty, al-Raudl
al-Marbi' (Riyadl: Maktabah al-Riyadl al-Hadietsah,
1390) juz I, hal 355) KASYF AL-QANA' Menurut pendapat Imam Ahmad yang disitir oleh al-
Marwadzi, perbuatan keluarga mayit yang
menghidangkan makanan merupakan kebiasaan
orang jahiliyah, dan beliau sangat
mengingkarinya...dan dimakruhkan keluarga mayit
menghidangkan makanan (bagi orang-orang yang sedang berkumpul di rumahnya kecuali apabila ada
hajat, seperti karena di antara para tamu tersebut
terdapat orang-orang yang tempat tinggalnya jauh,
mereka menginap di tempat keluarga mayit, serta
secara adat tidak memungkinkan kecuali orang
tersebut diberi makan), demikian pula dimakruhkan mencicipi makanan tersebut. Apabila biaya hidangan
makanan tersebut berasal dari peninggalan mayit,
sedang di antara ahli warisnya terdapat orang
(lemah) yang berada di bawah pengampuan, atau
terdapat ahli waris yang tidak memberi izin, maka
haram hukumnya melakukan penghidangan tersebut. (Kasyf al-Qina' (Beirut: Dar al-Fikr, 1402) juz
II, hal 149) IBN TAIMIYAH Adapun penghidangan makanan yang dilakukan
keluarga mayit (dengan tujuan) mengundang
manusia ke acara tersebut, maka sesungguhnya
perbuatan tersebut bid'ah, berdasarkan perkataan
Jarir bin Abdillah: "Kami (para sahabat) menganggap
kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan
bagian dari niyahah". (Ibn Taimiyah, Kutub wa Rasail
wa Fatawa Ibn Taimiyah fi al-Fiqh (Maktabah Ibn
Taimiyah) juz 24, hal 316) Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat, bila ada
kesalahan mohon maaf dan koreksinya.
Sampaikanlah kepada saudara-saudara kita sebagai
upaya untuk memperbaiki umat Islam ini Di rujuk kepada tulisan:
Catatan Satu Hari, Satu Ayat Qur'an. Dengan editing
dan penambahan literatur dan gambar halaman
buku yang discan oleh Anwar Baru Belajar. http://www.facebook.com/note.php?
note_id=402269969650&id=203164362857&ref=mf _______________________________________________________ Catatan Tepi untuk direnungi: Termasuk dalam kategori hukum yang manakah
Tahlilan [selamatan Kematian] ? Klasifikasi hukum dalam Islam secara umum ada 5
(lima) kalau tidak termasuk; Shahih, Rukhsoh, Bathil,
Rukun, Syarat dan 'Azimah.(Mabadi' awaliyyah, Abd
Hamid Hakim) 1. Wajib : Apabila dikerjakan berpahala, ditinggalkan
berdosa. 2. Sunnah/Mandub : Apabila dikerjakan berpahala,
ditinggalkan tidak apa-apa. 3. Mubah : Tidak bernilai, dikerjakan atau tidak
dikerjakan tidak mempunyai nilai. 4. Makruh : Dibenci, apabila dikerjakan dibenci,
apabila ditinggalkan berpahala. 5. Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan
berpahala. Pertanyaan : 1. Apakah Tahlilan [yang dimaksud :Selamatan
Kematian] di dalamnya terkandung ibadah ?
2. Termasuk dalam hukum yang mana Tahlilan
tersebut ? Jawab : 1. Karena didalamnya ada pembacaan do'a, baca
Yasin, baca sholawat, baca Al Fatikhah, maka ia
termasuk ibadah. Hukum asal ibadah adalah
"haram" dan "terlarang". Kalau Allah dan Rasulullah
tidak memerintahkan, maka siapa yang
memerintahkan ? Apakah yang memerintahkan lebih hebat daripada Allah dan Rasulullah 2. Jika hukumnya "wajib", maka bila dikerjakan
berpahala, bila tidak dikerjakan maka berdosa. Maka
bagi negara lain yang penduduknya beragama
Islam, terhukumi berdosa karena tidak
mengerjakan. Ternyata tahlilan, hanya di lakukan di
sebagian negara di Asia Tenggara Wajibkah Tahlilan ? Ternyata tidak, karena tidak ada
perintah Allah dan Rasul untuk melakukan ritual
tahlilan (Selamatan Kematian : red) Sunnahkah Tahlilan ? Ternyata ia bukan sunnah
Rasul, sebab Rasulullah sendiri belum pernah
mentahlili istri beliau, anak beliau dan para syuhada. Nah…..berarti hukumnya bukan Wajib, juga bukan
Sunnah. Kalau seandainya hukumnya Mubah, maka untuk
apa dikerjakan, sebab ia tidak mempunyai nilai
(tidak ada pahala dan dosa, kalau dikerjakan atau
ditinggalkan). Sudah buang-buang uang dan
buang-buang tenaga, tetapi tidak ada nilainya. Jadi, tinggal 2 (dua) hukum yang tersisa, yaitu
Makruh dan Haram. Makruh apabila dikerjakan
dibenci, apabila ditinggalkan berpahala. Haram :
Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala. Jadi….sekarang pilih yang mana ? Masih mau
melakukan atau tidak ?
Wallahu a'lam.

Menelusuri siapa Al Bani



Oleh Anas Malik
 Syeh Al Bani

Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani
lahir di Shkoder, Albania; 1914 / 1333 H
meninggal di Yordania ; 1 Oktober 1999 / 21 Jumadil Akhir 1420 H
umur 84–85 tahun
adalah salah seorang ulama Islam di era modern yang dikenal sebagai ahli hadits. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya lantaran ketekunan dan keseriusan mereka terhadap ilmu, khususnya ilmu agama dan ahli ilmu (ulama).[1] Ayah al-Albani, yaitu al-Haj Nuh, adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syariat di ibu kota negara Turki Usmani (yang kini menjadi Istanbul). Ia wafat malam Sabtu, 21 Jumada Tsaniyah 1420 H, atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999.

Belajar tanpa guru
Nuh (ayah Muhammad Nasiruddin Albani) sekeluarga pinda dari Albania menuju Syam (Suriah, Yordania dan Lebanon sekarang). Nuh sekeluarga akhirnya menuju Damaskus.
Setiba di Damaskus, Albani kecil mulai aktif mempelajari Bahasa Arab. Ia masuk madrasah yang dikelola Jum'iyah al-Is'af al-Khairiyah hingga kelas terakhir tingkat Ibtida'iyah.
Selanjutnya, ia meneruskan belajarnya langsung kepada para syeikh ulama.
Namun tidak jelas siapa gurun sebenarnya.
Ia hanya mempelajari al-Qur'an dari ayahnya sampai selesai, selain mempelajari pula sebagian fiqih madzhab, yakni madzhab Hanafi, dari ayahnya.

Albani juga mempelajari ketrampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga ia menjadi seorang ahli yangterkenal. Ketrampilannya itu kemudian menjadi mata pencariannya.

Pada umur dua puluh tahun, Albani mulai mengonsentrasikan diri pada ilmu hadits, terpengaruh dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha.

Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni 'an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar, sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya' Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali.
Kegiatan Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya yang berkomentar, "Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit."
Namun, Albani justru semakin menekuni dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab. Karenanya, ia memanfaatkan Perpustakaan azh-Zhahiriyah di Damaskus, di samping itu juga meminjam buku dari beberapa perpustakaan khusus.

Akhirnya, kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuknya. Bahkan kemudian ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, ia menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum pengunjung lain datang. Hal ini dilakukan hingga bertahun-tahun.

====================== 
Sekilas tokoh-tokoh yang mempengaruhi pemikiran Albani

Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha'uddin Al-Qalmuni Al-Husaini (dikenal sebagai Rasyid Ridha; 1865-1935) adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu, dibandingkan masyarakat kolonialis Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang sains dan teknologi. Ia berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern.
Mulai tahun 1898 hingga wafat(1935), Ridha menerbitkan surat kabar yang bernama Al-Manar.

Muhammad Abduh
Lahir di Delta Nil (kini wilayah Mesir), 1849 – meninggal di Iskandariyah (kini wilayah Mesir), 11 Juli 1905 pada umur 55/56 tahun) adalah seorang pemikir muslim dari Mesir, dan salah satu penggagas gerakan modernisme Islam.
Ia belajar tentang filsafat dan logika di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan juga murid dari Jamal al-Din al-Afghani, seorang filsuf dan pembaru yang mengusung gerakan Pan Islamisme untuk menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika.

Muhammad Abduh diasingkan dari Mesir selama enam tahun sejak 1882, karena keterlibatannya dalam Pemberontakan Urabi. Di Lebanon, Abduh sempat giat dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam. Pada tahun 1884, ia pindah ke Paris, dan bersalam al-Afghani menerbitkan jurnal Islam The Firmest Bond.
Salah satu karya Abduh yang terkenal adalah buku berjudul Risalah at-Tawhid yang diterbitkan pada tahun 1897.
Pemikirannya banyak terinspirasi dari Ibnu Taimiyah, dan pemikirannya banyak menginspirasi organisasi Islam, salah satunya Muhammadiyah, karena ia berpendapat, Islam akan maju bila umatnya mau belajar, tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu sains.
===================== 
Al al-Bani mulai beraksi.

Mari kita lihat perkataan al-Albani dalam kata pengantar cetakan pertama kitabnya Shahih al-Kalim ath-Thayyib li ibn Taimiyyah yang tercantum di halaman 16, cetakan ke-1 tahun 1390 H:
انصح لكل من وقف على هذا الكتاب و غيره, ان لا يبادر الى العمل بما فيه من الاحاديث الا بعد التأكد من ثبوتها, وقد سهلنا له السبيل الى ذلك بما علقناه عليها, فما كان ثابتا منها عمل به وعض عليه النواجذ, والا تركه

“Aku nasihatkan kepada setiap orang yang membaca buku ini atau buku yang lainnya, untuk tidak cepat-cepat mengamalkan hadits-hadits yang tercantum di dalam buku-buku tersebut, kecuali setelah benar-benar menelitinya. Aku telah memudahkan jalan tersebut dengan komentar-komentar yang aku berikan atas hadits tersebut, apabila hal tersebut (komentar dariku) ada, maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya. Jika tidak ada (komentar dariku), maka tinggalkanlah hadits tersebut.”

Perhatikan, dari perkataan al-albani diatas (perhatikan juga bahwa tata bahasa arab yang digunakan dalam beberapa kalimat terakhir di atas juga kacau balau, meskipun susunannya kacau balau masih dapat ditangkap maksudnya) dapat dipahami bagaimana albani memposisikan dirinya sebagai ahli hadits yang kemampuannya melebihi ulama hadits mu’tabar yang terdahulu.
Dia melarang umat muslim untuk  mengamalkan hadits-hadits shahih dari para imam muhaddits besar seperti al-Imaam al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan lain-lain terkecuali setelah ada komentar dari al-albani bahwa hadits-hadits itu dinyatakan sebagai hadits shahih oleh al-albani.
Jika tidak dikatakan shohih oleh al-albani, maka hadits-hadits tersebut ditinggalkan atau tidak boleh diamalkan sama sekali.
Sekarang yang menjadi permasalahan adalah, Apakah kapasitas keilmuan al-albani lebih jauh hebat daripada ulama’-ulama’ muhaddits terdahulu?
Sedangkan ulama’ – ulama’ ahli hadits yang mu’tabar tersebut masa kehidupannya jauh lebih dekat dengan masa Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam.
Coba bandingkan dengan masa kehidupan al-albani di abad 20 Masehi ini yang sangat jauh dari masa Rasulullaah shollallaah ‘alaih wa sallam?

Sungguh hebat, seorang ahli jam yang belajar dari perpustakaan dapat melakukan hal seperti itu.

Dari statement singkat al-albani yang tercantum di dalam kata pengantar bukunya tersebut, dapat disimpulkan juga  bahwasanya menurut albani dan pengikutnya apabila sebuah hadits tidak ada “embel-embel”  dishahihkan oleh al-albani maka hadits tersebut diragukan keshahihannya meskipun hadits tersebut tercantum di dalam kitab-kitab hadits tershohih sekalipun seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Kembali kepada kata pengantar dari albani diatas, perhatikan kalimat bawah:
فما كان ثابتا منها عمل به وعض عليه النواجذ, والا تركه …

“…apabila hal tersebut (komentar dariku) ada, maka barulah ia mengamalkan hadits tersebut dan menggigit gerahamnya.”

Kalimat diatas akan sangat terasa rancu bagi mereka yang terbiasa dengan bahasa arab, karena terkesan canggung dan menggelikan. Seharusnya, apabila memang al-albani adalah orang yang mumpuni di bidang hadits, tentunya beliau tidak akan menuliskannya dengan tata bahasa yang kacau balau.

Syaikh Hasan bin Ali As-Saggaf meluruskan kalimat tersebut di dalam kitabnya “Tanaqqudhat al-Albani al-Wadhihah”:
الصحيح ان يقول: إعمل به وعض عليه بالنواجذ. وقد أخطأ فى التعبير لضعفه فى اللغة
“Kalimat yang benar seharusnya berbunyi: “I’mal bihi wa ‘adhdhu ‘alaihi bi an-nawajidz” yang artinya: amalkanlah dan gigitlah dengan gerahammu kuat-kuat. Dan sungguh ia telah salah di dalam mengungkapkan kalimat itu dikarenakan lemahnya ia di dalam berbahasa arab.”

Penyelewengan terhadap kitab Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah karya imam ibn Abu al-Izz
Muhammad Nashiruddin al-Albani dan Zuhair asy-Syawistelah melakukan penyelewengan atas perkataan Imam as-Subki dalam kitab Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah karya imam ibn Abu al-Izz yang ditakhrijnya. Dan sangat terlihat sekali tujuan dari pemotongan kalimat ini bertujuan untuk memberikan kesan baik tentang akidah tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi yang telah digambarkan buruk oleh Imam Ibn Abu al-Izz, pengarang kitab tersebut. Sebagaimana yang sudah masyhur di kalangan para ulama’ pengkaji tauhid, Imam as-Subki adalah termasuk salah seorang ulama yang paling menentang akidah tajsim dan tasybih.
Perkataan imam as-Subki yang telah mereka palsukan itu berubah menjadi seperti ini:
وهذه المذاهب الأربعة – ولله تعالى الحمد – فى العقائد واحدة, إلا من لحق منها بالإعتزال والتجسيم, وإلا فجمهورها
على الحق يقرون عقيدة ابى جعفر الطحاوى التى تلقاها العلماء سلفا وخلفا بالقبول

“Madzhab yang empat ini – alhamdulillah –  adalah satu dalam hal akidah, kecuali orang-orang yang menempuh faham mu’tazilah dan tajsim. Jika tidak begitu, maka jumhur ulama berhak mengukuhkan akidah Abu Ja’far ath-Thahawi yang diterima dengan baik oleh para ulama baik salaf maupun khalaf.”
Scan lengkapnya (kalimat tersebut tercantum pada bagian footnote nomor 1):
syarh aqidah ath-thahawiyyah oleh albani

Padahal, sebenarnya perkataan imam as-Subki yang telah dinukil oleh imam ibn Abu al-Izz dari kitabnya Mu’id an Ni’am wa Mubid an-Niqam pada halaman 62 tertulis seperti ini:
shahih syarh aqidah ath-thahawiyyah syaich hasan ibn ali assaqqafi
Dan Ulama’-ulama’ madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan pembesar-pembesar madzhab Hanbali –alhamdulillah- dalam hal akidah adalah bersatu, semua berdasarkan akidah Ahlussunnah wal jama’ah. Mereka beragama kepada Allah melalui jalan asy-Syaikh as-Sunnah Abu al-Hasan al-Asy’ari, semoga Allah merahmati beliau. Tidak ada yang menyimpang dari akidah ini kecuali segelintir orang dari madzhab Hanafi dan Syafi’i yang mana diantara mereka menempuh faham mu’tazilah. Sedangkan segelintir orang dari madzhab Hanbali menempuh faham tajsim. Dan Allah menyelamatkan para ulama madzhab Maliki, sehingga kami tidak melihat seorang pun dari ulama Maliki kecuali dia seorang Asy’ari dalam hal akidah. Kesimpulannya, akidah Asy’ari adalah akidah yang sama dengan akidah Abu Ja’far ath-Thahawi yang diterima oleh para ulama madzhab dengan baik dan mereka meridhainya.”
[lihat kitab Shahih Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah oleh asy-Syaich Hasan ibn Ali Assaqqafi halaman 18]
Penjelasan Imam as-Subki tentang penyelewengan dari segelintir orang-orang madzhab Hanbali yang menempuh faham tajsim ini tidak disebutkan sama sekali oleh Zuhair asy-Syawis pada muqaddimahnya di dalam kitab Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah yang ditakhrij oleh al-Albani. Dan tentu saja pemotongan kalimat yang dilakukan dengan sengaja atas perkataan ulama’ seperti ini sungguh tidak layak untuk dilakukan, dan dalam kasus ini sangat jelas sekali hal ini dilakukan bertujuan untuk menutupi faham tajsim yang dibawa pentakhrij.

========================
IJASAH SANAD SYEIKH AL-ALBANI

Ada artikel menarik mengenai tidak adanya ijazah (sanad yg muttashil) syaikh Albani. Ini di dapat dari seorang ahli hadits, syaikh Shu‘ayb al-Arna’ut yang merupakan satu kampung dengan Sykeh Albani. Sama-sama merantau dari Albania ke Damascus. Artikel dalam bahasa Inggris.

Silakan lihat di http://www.masud.co.uk/ISLAM/nuh/masudq6.htm

Melacak Asal Dinasti Saudi

Sikap apatis Negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, khususnya Arab  Saudi, mengundang kecurigaan umat Islam. Bagaimana mungkin mereka bungkam menyaksikan pembantaian saudara Muslim yang berlangsung didepan matanya, dilakukan oleh musuh abadi zionis Israel la’natullah? Penelitian dan Penelusuran seorang Mohammad Shakher, yang akhirnya dibunuh oleh rezim  Saudi karena temuannya yang menggemparkan ini, agaknya menuntun kita menemukan jawabnya. (Tidak banyak informasi tentang siapa Mohammad Shaker ini, dan ini bisa saja disebabkan karena ia dibunuh tidak lama setelah informasi ini beredar atau penjegalan informasi mengenai kehidupannya oleh pihak-pihak tertentu yang tidak ingin berita ini tersebar atau atas alasan demi keamanan pihak keluarganya.
Namun informasi ini bisa saja merajut benang-benang sejarah tentang berdirinya Kerajaan Saudi tanpa harus  mengesampingan objektifitas dan kevalidan sumber informasinya tersebut).Shakher menulis  buku  berjudul ‘Ali Saud min Aina wa Ila Aina?’ membongkar  apa  di balik    bungkamnya penguasa Khadimul Haramaian setiapkali berhadapan dengan konflik Palestina-Israel. Buku ini juga menemukan fakta baru, mengenai asal muasal Dinasti Saudi. Bagaimanakah runut garis  genealoginya? Benarkah mereka berasal dari trah Anza Bin Wael, keturunan Yahudi militan?
Informasi buku ini sangat mencekam sekaligus mencengangkan.
Sulit dipercaya, sebuah dinasti yang bernaung di bawah kerajaan Islam Saudiyah bisa melakukan kebiadaban iblis dengan melakukan  pembakaran masjid sekaligus membunuh jamaah shalat yang berada di dalamnya. Jika isi buku yang terbit 3 Rabi’ul Awal 1401 H (1981 M)  ini ‘terpaksa’ dipercaya, karena faktanya yang jelas, maka kejahatan Kerajaan Saudi  Arabia terhadap kabilah Arab dahulu, persis seperti kebuasan zionis Israel membantai rakyat Muslim di Jalur Gaza.


Melacak Asal Dinasti Saudi
Dalam  silsilah  resmi  kerajaan  Saudi  Arabia   disebutkan, bahwa Dinasti Saudi Arabia bermula sejak abad ke dua belas Hijriyah atau abad ke delapan belas  Masehi. Ketika itu, di jantung  Jazirah  Arabia,  tepatnya   di  wilayah  Najd  yang secara historis sangat terkenal,  lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud di  “Ad-  Dir’iyah”,   terletak   di   sebelah   barat   laut   kota Riyadh pada  tahun 1175 H/1744 M, dan meliputi hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia.
Negara ini mengaku memikul tanggung jawab dakwah menuju kemurnian Tauhid kepada Allah Tabaraka  wa Ta’ala, mencegah prilaku bid’ah dan khurafat, kembali kepada ajaran para Salafus Shalih dan berpegang  teguh kepada dasar-dasar agama Islam yang lurus. Periode awal Negara Saudi Arabia ini berakhir pada tahun 1233 Hijriyah /1818 Masehi.


Periode kedua dimulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada tahun  1240
H/1824 M. Periode ini berlangsung hingga tahun 1309 H/1891 M. Pada tahun 1319 H/1902 M,  Raja Abdul Aziz berhasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, ketika beliau merebut kembali kota Riyad yang merupakan ibukota bersejarah kerajaan ini.
Semenjak itulah Raja Abdul Aziz mulai bekerja dan membangun serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab modern,  yaitu ketika berhasil mengembalikan suasana  keamanan  dan ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh  wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang kuat yang dikenal dengan nama  Kerajaan Saudi Arabia. Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada tahun 1351 H/1932 M, merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.
Raja Abdul Aziz Al-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja  dinasti Saud, untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam, menebar keamanan dan ketenteraman ke seluruh penjuru negeri kerajaan yang sangat luas, mengamankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian kepada ilmu dan para ulama, dan membangun hubungan luar negeri  untuk merealisasikan tujuan- tujuan solidaritas Islam dan memperkuat tali persaudaraan di antara seluruh bangsa arab dan kaum Muslimin serta sikap saling memahami dan menghormati dengan seluruh masyarakat dunia.
Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak-langkahnya dalam memimpin  Kerajaan Saudi Arabia. Mereka adalah: Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, dan Pelayan Dua Kota Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz.


Dinasti Saudi Trah Yahudi
Namun, di masa yang jauh sebelumnya, di Najd tahun 851 H. Sekumpulan pria dari Bani Al Masalikh, yaitu trah dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang  (korporasi) yang bergerak  di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makananan lain dari Irak, dan  membawanya  kembali  ke  Najd.  Direktur  korporasi  ini bernama Sahmi  bin   Hathlool.  Kelompok   dagang  ini  melakukan   aktifitas  bisnis mereka sampai ke Basra, di sana mereka berjumpa dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe.
Ketika  sedang  terjadi  proses  tawar menawar,  Si  Yahudi  itu bertanya  kepada  kafilah dagang  itu.  “Dari manakah anda berasal? ” Mereka menjawab, ”Dari Kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masalikh.” Setelah  mendengar nama itu, orang Yahudi itu menjadi gembira, dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama, tetapi terpaksa tinggal di Bashra, Irak. Karena persengketaan keluarga antara bapaknya dan ahli keluarga kaum Anza.
Setelah itu, Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan keranjang-keranjang berisi  gandum, kurma  dan  makanan  lain  ke  atas  pundak  unta-unta  milik  kabilah  itu.  Hal  ini  adalah  sebuah  ungkapan penghormatan bagi para saudagar Bani Al Masalikh itu, dan menunjukkan  kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, para kafilah dagang merupakan sumber pendapatan, dan relasi  bisnis.  Mardakhai  adalah  saudagar   kaya   raya   yang   sejatinya   adalah   keturunan   Yahudi   yang bersembunyi di balik roman wajah Arab dari kabilah Al-Masalikh.
Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, saudagar Yahudi itu minta diizinkan untuk ikut  bersama mereka, karena sudah lama dia ingin pergi ketanah asal mereka  Najd.  Setelah  mendengar  permintaan lelaki Yahudi itu, kafilah dagang suku Anza itu pun amat berbesar hati dan menyambutnya dengan gembira.


Pedagang Yahudi yang sedang taqiyyah alias menyamar itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya. Di  Najd, dia  mulai  melancarkan  aksi  propaganda  tentang  sejatinya  siapa  dirinya  melalui  Sahabat-sahabat,  kolega dagang dan teman barunya dari keturunan Bani Al-Masalikh tadi. Setelah itu, disekitar Mordakhai, berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tetapi tanpa disangka, dia  berhadapan dengan seorang ulama yang menentang doktrin dan fahamnya.  Dialah  Syaikh  Shaleh  Salman  Abdullah  Al-Tamimi seorang  ulama kharismatik  dari  distrik  Al-Qasem.  Daerah-daerah  yang  menjadi  lokasi  disseminasi  dakwahnya  sepanjang distrik Najd, Yaman, dan Hijaz.
Oleh karena suatu alasan tertentu, si Yahudi Mordakhai itu -yang menurunkan Keluarga Saud itu- berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa.
Di sana, dia merubah namanya dari Mordakhai menjadi Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menitip di sebuah tempat bernama Dir’iya yang  berdekatan dengan Al- Qateef. Di sana, dia memaklumatkan propaganda dustanya, bahwa perisai  Nabi Saw telah direbut sebagai  barang   rampasan oleh seorang pagan (musyrikin) pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan  Kaum Muslimin. Katanya, “Perisai itu telah dijual oleh Arab musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Banu Qunaiqa’ yang menyimpannya sebagai harta karun.”
Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya dikalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita  dusta   yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi. Akhirnya,dia diberi suatu rumah untuk menetap di Dir’iya, yang berdekatan Al-Qateef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. 
Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai  tapak  atau  batu  loncatan guna mendirikan kerajaan Yahudi ditanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badwi untuk menguatkan posisinya, kemudian secara perlahan, dia mensohorkan dirinya sebagai raja kepada mereka.


Kabilah Ajaman dan Kabilah Bani Khaled, yang merupakan penduduk asli Dlir’iya menjadi risau akan  sepak terjang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menantang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Mereka menangkap saudagar Yahudi itu  dan  menawannya, namun berhasil meloloskan diri.
Saudagar  keturunan Yahudi  bernama  Mordakhai  itu  mencari  suaka  di  sebuah  ladang bernama  Al-Malibed Gushaiba yang  berdekatan dengan Al Arid,  sekarang bernama  Riyadh.  Disana  dia  meminta  suaka  kepada pemilik  kebun  tersebut  untuk  menyembunyikan  dan  melindunginya.  Tuan  kebun  itu  sangat  simpati  lalu memberikannya  tempat  untuk  berlindung.  Tetapi  tidak  sampai  sebulan  tinggal  di  rumah  pemilik  kebun, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan pelindungnya bersama seluruh keluarganya.


Sungguh  bengis kelakuanya,  air  susu  dibalas  dengan  air  tuba.  Mordakhai    memang  pandai  beralibi,  dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menggarong rumahnya. Dia juga  berpura- pura  bahwa  dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya  pembantaian tersebut. Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al-Dir’iya, sebuah nama  yang sama dengan tempat darimana ia terusir dan sudah ditinggalkannya.
Keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu dengan cepat mendirikan sebuah markas dan ajang  rendezvous bernama “Madaffa” di atas tanah yang dirampasnya itu. Di markas ini dia mengumpulkan para pendekar dan jawara propaganda (kaum munafik) yang selanjutnya mereka menjadi ujung tombak  propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah ‘Syaikh’-nya orang-orang  keturunan  Arab yang disegani. Dia menabuh genderang perang terhadap Syaikh Shaleh Salman Abdulla  Al-Tamimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Syeikh Shaleh Salman terbunuh di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi.


Mordakhai berhasil da  puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil menjadikan Dir’iya sebagai pusat kekuasaannya.
Di tempat ini, dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian dia beri nama dengan nama-nama Arab.
Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dir’iya di  bawah  bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan  tindak  kriminal, menggalang beragam konspirasi  untuk menguasai semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan penggarongan tanah  dan ladang penduduk setempat, membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana jahat mereka.
Dengan beragam cara dan muslihat mereka  melancarkan  aksinya.  Memberikan suap, memberikan iming-iming wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan, mereka “menutup mulut” dan “membelenggu tangan” para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam  dan merunut asal garis trah keturunan mereka kepada kabilah Rabi’a, Anza dan Al-Masalikh.


Sekte Wahabi
Seorang sejarawan hipokrit “si raja bohong” bernama Mohammad Amin  al- Tamimi, kepala perpustakaan Kerajaan Saudi, menulis garis silsilah  keluarga Saudi  dan  menghubungkan  silsilah  Moordakhai pada Nabi Muhammad Saw.
Untuk kerja kotornya itu, dia dihadiahi uang sebesar 35  ribu pound Mesir dari Kedutaan Arab Saudi di Kairo,  Mesir pada tahun 1362 H atau 1943 M yang diserahkan secar simbolis kepada dubes Arab Saudi untuk Mesir, yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadel.
Keluarga Yahudi berasal dari  Klan Saud (Moordakhai)  mengamalkan  ajaran poligami dengan  mengawini ratusan wanita arab dan melahirkan banyak anak. Hingga sekarang amalan poligami itu diteruskan praktiknya oleh anak keturunan.
Poligami adalah warisan yang harus dijaga dan diamalkan sebagaimana praktik kakek moyangnya!  Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran, di ‘arabkan’ dari keturunan Yahudi (Mack-Ren) dan mendapat anak bernama Mohamad dan seorang lagi bernama Sa’ud, yang merupakan cikal bakal Dinasti Saud sekarang ini.


Keturunan Saud melancarkan kampanye dan propaganda pembunuhan terhadap ketua-ketua kabilah Arab yang berada  dibawah  kekuasaannya dan mencap mereka sesat, telah meninggalkan  ajaran  Al-Qur’an,  dan menyeleweng dari ajaran Islam. JADI MEREKA BERHAK UNTUK DIBUNUH OLEH KELUARGA SAUDI !
Dalam sebuah buku tentang sejarah Keluarga Saudi hal.  98-101,  ahli sejarah keluarga mereka  telah mempopulerkan bahwa Dinasti Saud mendakwa semua penduduk Najd  adalah  kafir.  Maka darah  mereka adalah halal, mereka berhak dibantai, harta mereka dirampas, wanita mereka dijadikan budak seks.
Seseorang muslim tidak benar benar Muslimnya jika tidak mengamalkan ajaran yang berasal dari MOHAMMAD BIN ABDUL WAHAB.
Ajaran dan doktrinnya memberikan kuasa kepada Keluarga Saud untuk membumihanguskan  kampung- kampung mereka.  Mereka membunuh para suami dan anak-anak, merampas para istri,  menikam perut wanita hamil, memotong tangan anak mereka dan kemudian membakar mereka!! Ditambah ‘justifikasi’ doktrin faham wahabi bagi mereka untuk seenak pusernya sendiri membajak dan merampas harta penentang mereka.


Keluarga Yahudi ini telah melakukan banyak kezaliman dibawah panji ajaran Wahabi yang dicipta oleh Mordakhai untuk menyemai benih kekejaman di hati manusia. Dinasti Yahudi telah melakukan aksi kebiadaban sejak 1163 H. Sampai-sampai mereka telah menamakan semenanjung tanah Arab dengan nama keluarga mereka (Arab Saudi) sebagai sebuah negara kepunyaan mereka, dan semua penduduk Arab adalah hamba mereka, bekerja keras untuk kemewahan mereka (Keluarga Saudi).
Mereka telah menghak-milikkan semua kekayaan negara tersebut sebagai harta pribadi.  Jika ada yang berani mengkritik undang-undang dan peraturan buatan “rezim  tangan besi” Dinasti Yahudi tersebut, pihak penguasa tak segan-segan memenggal kepala pengkritik di depan khalayak. Disebutkan bahwa salah seorang puteri mereka melewati masa liburnya dengan plesiran  ke  Florida,  Amerika  Serikat  bersama  para pembantu dan penasihatnya. Dia menyewa 90 kamar mewah (suite) di Grand Hotel dengan tariff satu juta dolarpermalam!!!  Rakyat yang mencoba bersuara memprotes   lawatan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara akan  ditembak mati dan dipenggal kepalanya!


Fakta Menggemparkan !
Sejumlah kesaksian yang  meyakinkan  bahwa  Keluarga  Saud merupakan keturunan Yahudi, dapat dibuktikan melalui fakta-fakta berikut ini.


Pada  tahun 1960-an, pemancar radio “Sawtul Arab” di Kairo, Mesir, dan pemancar  radio di Sana’a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah dari trah Yahudi.
Raja Faisal Al-Saud tidak bisa menyanggah bahwa keluarganya adalah keluarga Yahudi ketika memberitahukan kepada The Washington Post pada tanggal 17 September 1969, dengan menyatakan bahwa: “Kami, Keluarga Saudi adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya  tidak setuju  dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhannya kepada  Yahudi,  sebaliknya  kita harus  tinggal  bersama mereka  dengan  damai. 
Negeri  kami, Saudi  Arabia merupakan sumber awal Yahudi dan nenek-moyangnya, dari sana menyebar ke seluruh dunia”.


Pernyataan ini keluar dari lisan Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz. Hafez Wahbi, Penasihat  Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan didalam bukunya yang berjudul ‘Semenanjung   Arabia’ bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan :
“Pesan Kami (Pesan  Saudi) dalam menghadapi oposisi dari suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal, menceriterakan saat menawan sejumlah Syaiikh dari suku Mathir, dan ketika kelompok lain dari  suku yang sama datang untuk menengahi dan meminta membebaskan semua tawanannya. Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian mempermalukan dan menurunkan nyali para penengah dengan cara mengundang  mereka  ke jamuan makan.  Makanan  yang dihidangkan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkan di atas piring.”


Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri. Karena  mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga.  Itulah kejahatan yang  sangat mengerikan yang telah dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa, kesalahan mereka karena menentang terhadap  kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.


Hafez Wahbi selanjutnya menyatakan bahwa, berkaitan dengan kisah nyata berdarah yang menimpa Syaikh suku Mathir, dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz Al-Saud bernama Faisal Al-Darwis. Diceriterakannya kisah itu kepada utusan suku Mathir dengan maksud mencegah agar mereka tidak  meminta pembebasan pimpinan mereka,  bila tidak, mereka akan diperlakukan sama. Dia bunuh Syaikh  Faisal Darwis dan darahnya dipakai untuk berwudlu sebelum dia shalat.
Kesalahan Faisal Darwis waktu itu hanya karena dia mengeritik Raja Abul Aziz Al-Saud. Ketika raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun1922  sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi, tandatangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922.
Sistem rejim keluarga yahudi  (Keluarga Saudi)  dulu & sekarang masih tetap sama. Tujuannya, untuk merampas kekayaan negara, merampok, memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman,ke-tidak-adilan, penghujatan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilaksanakan sesuai dengan ajaran  Sekte Wahhabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya.


Wallahu a’lam bis shawab.
(Diterjemahkan secara bebas dari sebuah naskah berbahasa Arab berjudul “Aly Sa’ud, Min Aina? wa Ilaina?” yang ditulis oleh Muhammad Sakher)
Sumber  : http://www.fortunecity.com/boozers/bridge/632/history.html Download Naskah berbahasa Arab : http://www.mediafire.com/?2amgtelyjhy